Selasa, 23 Juni 2026 pukul 02:29 WIB

Kisah Klasik Tinju Nasional: Laga Makawimbang vs Wuritimur

Kisah Klasik Tinju Nasional: Laga Makawimbang vs Wuritimur

Kilas Balik Ring Tinju Nasional: Ketika Duel Makawimbang vs Wuritimur Berujung Kericuhan

Lembaran sejarah tinju profesional tanah air pernah mencatatkan sebuah insiden kelam yang penuh ketegangan. Peristiwa dramatis ini terjadi hampir tiga dekade silam, tepatnya pada malam minggu, 29 Agustus 1998, di dalam studio sebuah stasiun televisi swasta terkemuka di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat.

Pertarungan yang mempertemukan Herry Makawimbang dari kubu Benteng AMI/ASMI Jakarta melawan Christ Wuritimur dari sasana Gemindo Jakarta tersebut berubah menjadi hari yang mencekam bagi pelaku dan saksi sejarah di arena.


Ketegangan di Atas Kanvas Kebon Jeruk

Kericuhan meledak sesaat setelah laga usai. Pendukung setia Wuritimur yang tidak puas dengan jalannya pertandingan nekat menjebol barikade keamanan dan merangsek masuk ke dalam ring. Situasi nyaris tak terkendali ketika mereka hendak baku hantam dengan kubu Makawimbang yang jumlahnya lebih sedikit namun sudah bersiap dalam posisi bertahan.

Atmosfer studio yang semula panas perlahan mulai mereda berkat aksi sigap mantan penguasa kelas menengah Indonesia, Polly Pasireron. Ia naik ke ring dengan tatapan tegas, membuat para perusuh tak resmi mengurungkan niatnya untuk memperkeruh suasana hingga situasi kembali kondusif.


Jalannya Pertandingan yang Alot dan Penuh Kejutan

Pada awal-awal ronde, bentrokan kedua petarung ini sebenarnya berjalan kurang menarik. Makawimbang yang mengandalkan jangkauan panjang kerap melepaskan jab dan straight kiri, namun belum menemui sasaran. Sebaliknya, Wuritimur yang kalah dalam postur tinggi badan mencoba merangsek masuk dengan strategi merunduk, meski pukulannya masih tertahan sarung tinju lawan.

Karakteristik Makawimbang sebagai petinju kidal yang lincah sukses meredam agresivitas Wuritimur. Titik balik laga mulai terlihat pada detik-detik akhir ronde keempat, saat sebuah hantaman telak dari tangan kiri Makawimbang bersarang di tubuh Wuritimur hingga membuatnya limbung. Beruntung, dentang bel penyelamat berbunyi tepat waktu.

Memasuki ronde kelima, petaka bagi kubu Gemindo benar-benar terjadi. Wuritimur mendadak roboh di tengah ring dan dinyatakan KO dalam waktu yang sangat singkat. Menolak hasil tersebut, tiga orang simpatisannya langsung melompat pagar dan mengepung wasit Johnny Alwie.

Sang pengadil ring dituding berat sebelah. Pihak Wuritimur mengklaim bahwa jatuhnya sang petinju diakibatkan oleh pukulan terlarang di bawah perut (low blow) yang seharusnya berujung pada keputusan diskualifikasi untuk Makawimbang. Kendati mendapat tekanan hebat, Johnny Alwie tetap bergeming pada keputusannya. Herry Makawimbang resmi keluar sebagai pemenang KO sekaligus menyandang sabuk baru kelas bulu yunior.


Pengakuan Jujur di Balik Ring dan Persahabatan Abadi

Beberapa tahun berselang setelah tensi tinggi malam itu mereda, Christ Wuritimur membeberkan rahasia di balik kekalahannya dalam sebuah obrolan santai di kawasan Jakarta Timur.

"Harus saya akui, titik lemah terbesar saya sepanjang karier adalah saat berhadapan dengan petinju kidal. Dari tiga kali pertemuan melawan Herry Makawimbang, saya selalu kesulitan dan gagal memetik kemenangan," ungkap Christ dengan legawa.

Meski pernah terlibat dalam laga yang berakhir rusuh, rivalitas keduanya hanya membara di atas ring. Setahun pasca-insiden tersebut, Herry Makawimbang menepis segala sekat permusuhan dengan datang sendirian menghadiri pesta pernikahan Christ Wuritimur dan Sisca Susanti di Jakarta demi memberikan ucapan selamat secara langsung.

Kini, roda kehidupan membawa keduanya ke garis takdir yang berbeda. Christ Wuritimur memilih untuk menghabiskan masa tuanya di ibu kota Jakarta bersama sang istri. Sementara itu, Herry Makawimbang yang menyandang gelar sarjana perkantoran kini menetap di wilayah Malalayang, Manado, Sulawesi Utara.

Administrator

Redaksi Sensusindonesia